Tampilkan postingan dengan label perpus girl. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perpus girl. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Juli 13, 2013

Laporan: DONE!!

Ini sebenarnya kejadian hari Rabu, tanggal 10 Juli kemarin. Hari saat aku bisa sedikit merasa lega dan senang. Lega dan senang karena karena laporan akhir-ku sudah selesai kutulis! Hahaha..
Biarpun dua hari kemudian dosen-ku mengirim e-mail untuk menghadap pada beliau karena banyak hal yang harus kuperbaiki..

Aaaaaaaaannd, perasaan senang karena bisa menyelesaikan laporan tepat pada deadline-nya juga dirasakan oleh para mahasiswa asing yang satu prorgram denganku..
Pada hari itu juga dosen pengampu program 日研生, (nikkensei, singkatan yang kalo diartikan jadi Japanese Studies, gitu) yang baru, Ibu Rie Suganaga, menanyakan kepada kami, kepada 22 mahasiswa program Japanese Studies mengenai siapa yang mau menjadi 司会, (shikai, kalo di kamus, maksudnya chairmanship, pemimpin rapat gitu.. Boleh ga sih, aku bilang moderator?) di hari presentasi laporan kami tanggal 26 Juli nanti. Dan seperti biasa, mahasiswa Japanese Studies yang paling aktif, Boris Andreevich Kuzmenko, (22 tahun, negara asal Rusia) yang pertama angkat tangan. 
Oiya, aku harus ngejelasin dulu soal Presentation Days itu. Jadi, nanti di hari itu akan dibagi ke dalam 3 sesi. Untuk masing-masing sesi dibutuhkan 2 orang moderator. Tentunya moderator itu adalah orang yang tidak presentasi di sesi yang ia moderator-i. Karena yang angkat tangan hanya si Boris saja, ada mahasiswa yang nyeletuk, aku lupa siapa, biar Boris aja yang jadi moderator di semua sesi. Semua tertawa termasuk Boris. Dia memang mahasiswa yang sangat, bahkan kalau aku bilang, terlalu percaya diri, dan karena itu dia setuju saja. Tapi aku terus membantah dengan mengatakan kalau akan aneh kalau dia me-moderator-i saat ia sendiri yang harus presentasi. Dia membantahku balik dengan mengatakan sebenarnya itu tidak masalah, karena saat gilirannya tiba dia bisa mengatakan, "Setelah ini, saya akan mempresentasikan laporan saya.." dst. Tapi Ibu Suganaga juga speendapat denganku, jadi hasilnya adalah harus ada orang lain yang menjadi moderator juga. Lalu, Boris meminta agar ia menjadi moderator untuk bagian kedua dan ketiga, yang berarti dia akan presentasi di bagian pertama. Singkat cerita, moderator bagian pertama adalah mahasiswa asal Tajikistan bernama Farzhona dan mahasiswa asal Polandia yang biasa dipanggil Olla.

Sebelum mereka diputuskan menjadi moderator, Boris sudah ribut dengan mencoba merekomendasikan aku untuk menjadi moderator juga. Daaaaaannn, terjadilah, Ibu Suganaga menanyakan pada Boris, siapa yang ingin dia tunjuk untuk menjadi partner moderator-nya, dan dia dengan cepat, pasti, dan lantang, menyebut namaku. orz
Dan diputuskanlah aku menjadi moderator juga untuk bagian ketiga. Ibu Suganaga kemudian menanyakan siapa yang ingin Boris tunjuk untuk moderator bagian kedua. Oiya, selain rasa percaya dirinya yang tinggi, Boris juga orang yang suka usil. Dia langsung saja menyebut nama mahasiswa dari Korea, Kang Seong Mun, dan langsung mendapat penolakan cepat dari mahasiswa yang namanya disebut itu. Kang Seong Mun yang anti sosial tetap bermuka baja biarpun seisi kelas tertawa melihat kejadian itu. Boris mencoba merekomendasikan Tommy, mahasiswa dari China yang namanya aslinya, Du Shuai, (itu dah nama lengkap, lho.. makanya aku panggil Tommy biar ga manggil nama lengkap gitu.. haha)
Tommy menolak dengan sedikit berputar-putar, dulu. Menyebut beberapa alasan yang aku lupa.. #meh
Ibu Suganaga masih berusaha untuk mencari mahasiswa yang mau secara sukarela menjadi moderator dengan mengatakan ini kesempatan untuk tampil, dan sebagai moderator pasti akan banyak dipotret. Akhirnya aku yang ada bakat jadi banci-kamera pun mengangkat tangan dan minta untuk diizinkan menjadi moderator bagian kedua juga. Karena itu-pun, aku pun diputuskan untuk presentasi di bagian pertama juga. Tujuanku memang ada tiga, biar sering di-foto, biar presentasi di awal-awal, dan biar ga kalah sama si Boris! Huahahahahaha!!!  
Dan demikianlah, yang harus kupersiapkan adalah latihan presentasi, latihan jadi moderator, dan lain-lain. Ga sabar untuk menunggu tanggal 26..

muka-ku sekarang mungkin kaya gini..

Oiya, masih ada sisa laporan Academic Writing juga sih... orz

Jumat, Mei 17, 2013

Perpustakaan Tokyo University of Foreign Studies

Akhirnya kuliah jam keempat pun berakhir. Hari ini terlewatkan dengan agak "bahaya". Kuliah hari ini dimulai pada jam kedua yaitu pukul 10.10 waktu Tokyo, kuliah yang disebut Academic Writing. Kuliah yang mengharuskan mahasiswa yang mengikutinya untuk menulis laporan sebagai penentu nilai di akhir semester, yang sebenarnya ga mau aku ambil, tapi terpaksa kuambil karena ini kuliah wajib untuk Nikkensei seperti aku. Selain menulis laporan, yang tiap minggunya kami harus melaporkan kemajuannya, kami juga mendapat tugas rumah mengerjakan soal-soal di buku panduan menulis laporan. Keren, ya? Buku panduan menulis laporan, pake tugas-tugas segala.
Untuk tugas-tugas yang itu aku terbilang rajin, karena jawabannya biasanya sudah ada, lol. Sedangkan untuk laporanku sendiri, jujur, aku maaaales setengah mati. Di akhir kuliah biasanya kami dikelompokkan dengan berdasarkan tema laporan dan berdiskusi tentang kemajuan laporan masing-masing. Sialnya, pas giliranku bercerita, dosennya pas lewat dan ketahuan-lah kalo aku belum mengerjakan apa-apa untuk laporan-ku. Ntah dosennya memang baik, atau karena beliau mengerti Nikkensei punya kewajiban laporan yang lain, aku dimaafkan sih. Tapi, tetep aja sedih. Karena setelah kuliah berakhir pun semangat untuk menulis laporan pun tetap tidak muncul. orz
Setelah jam ketiga dan keempat berakhir, aku memutuskan untuk ke perpustakaan. Aku benar-benar cinta dengan perpustakaan kampus ini. Koleksi buku-bukunya benar-benar bermutu. Ada empat lantai, dan dari lantai kedua sampai keempat ada tempat duduk yang sangat banyak dan bikin betah untuk berlama-lama di situ karena adanya fasilitas wi-fi yang berkecepatan tinggi. Hahaha.
Kalau meminjam buku, kita bisa meminjamnya sampai sekitar 2 minggu. Peminjaman bagi mahasiswa yang memiliki kartu mahasiswa bisa dilakukan dengan sistem self service dengan mesin yang bisa mengecek barcode kartu mahasiswa dan barcode buku. Kita bisa meminjam sampai 10 jilid buku. Jika ada buku yang sedang kita pinjam dan sudah lewat tenggat waktu pengembalian, maka mesin secara otomatis akan menolak untuk meminjamkan buku kepada kita. Denda? Ga ada. Kita hanya kena penalti tidak boleh meminjam buku selama jumlah hari kita terlambat mengembalikan buku, dihitung sejak buku tersebut dikembalikan. Kalo pas lagi senggang, mungkin gapapa. Tapi kalau lagi butuh, repot kan? Aku sih secara pribadi menilai sistem penalti ini lebih ampuh daripada sistem denda.
Di pintu masuk perpustakaan ada kalender yang disertai jam kerja perpustakaan setiap harinya. Jadi, kalau memutuskan mau ke perpus di satu hari, bisa di-cek dulu perpusnya buka dari jam berapa pada hari yang diinginkan itu. Seandainya perpus di FIB di UGM bisa seperti ini, mungkin aku bakal kangen berat sama perpus penuh kenangan suka duka mencari dan memikirkan tema skripsi dengan teman-teman saat kuliah Seminar Skripsi. lol
Yah, susah sih. Aku merasa nyaman dengan kehidupan di sini yang serba teratur, tapi gimana juga aku cinta Jogja, Solo, dan Indonesia yang juga menyimpan banyak kenangan manis selama 22 tahun hidupku. Ga mau pulang, tapi mau pulang. Lupakan. Niat awalnya mau mengulas soal perpus di sini, malah curcol.