Tampilkan postingan dengan label lalu lintas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lalu lintas. Tampilkan semua postingan

Selasa, November 25, 2014

Ayo Pakai Pertamax

Menanggapi soal kenaikan harga BBM dan kritik-kritik terhadap Jokowi, saya cuma mau bilang,
Ya udah lah harga BBM naik, Jokowi bilangnya juga subsidinya untuk dialihkan ke sektor yang lebih produktif kan?
Kalau mau protes, nanti dulu setelah tahu hasilnya. Mengubah dan memperbaiki Indonesia itu ga bisa kalau cuma semalam. Karena semua juga tahu Indonesia ini negara yang besar.
Untuk bisa menjadi Indonesia yang lebih baik, kita butuh sengsara dulu. Mungkin sepuluh, atau lima tahun deh, kalau sepuluh tahun kelamaan.
Ga cuma untuk memperbaiki Indonesia aja, untuk memperbaiki nasib juga kan butuh waktu, butuh proses. Kalau waktunya dihabiskan untuk protes-protes, kapan kerjanya?
Daripada protes harga BBM naik, mending cari cara deh buat nambah penghasilan atau melakukan penghematan.
Harga BBM naik pun, kita tetap butuh kan?
Atau, kalau memang pingin yang harganya turun, pakai Pertamax tuh. Sekarang juga beda harganya ga begitu jauh, tapi efeknya ke mesin kendaraan jauh lebih bagus. Apalagi motor dan mobil keluaran baru, saya baca di internet, rasio kompresinya tinggi, jadi mesinnya akan bekerja lebih berat jika dikasih Premium. Kalau pakai Pertamax, kerja mesin akan lebih ringan, sehingga jatuhnya malah lebih hemat daripada kalau pakai Premium!
Mesin lebih awet, jadi ga bakal sering ke bengkel seperti kalau pakai Premium.
Apalagi, kan keren tuh kalau di SPBU bilang ke mas atau mbak penjaganya, "Pertamax donk, Gan." Berasa kaskuser gitu. Hahaha.
Ayo pakai Pertamax, teman-teman!

Rabu, Oktober 16, 2013

Aku, Klakson dan Lalu Lintas

Ini cerita tentang  counter culture shock yang kualami setelah pulang dari Tokyo. Buat yang ga ngerti culture shock, intinya sih, perasaan kaget, kagum, bingung, heran yang dialami seseorang yang memasuki suatu komunitas dengan kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan dari komunitas tempat ia tumbuh. Well, ini definisi ala aku sih. So, correct me if I'm wrong.
Nah, counter culture shock itu, culture shock yang dirasakan ketika orang tadi kembali ke komunitasnya. Karena dah terlanjur terbiasa dengan budaya asing tempat ia tinggal sementara, jadi kaget waktu pulang gitu, lho.
Yang aku alami salah satunya berhubungan dengan lalu lintas. Kalau jalan-jalan di Shibuya atau Shinjuku aku suka sebel sama lautan manusia, di Jogja atau Solo, aku sering marah-marah sama kendaraan yang tak berhenti lalu lalang. Ditambah pula dengan suara bising klakson, dan jalanan yang tidak rata.
Aku akan fokus ke klakson. Ga ada alasan khusus, sih.. Aku mungkin memang hyper-sensitive sama suara klakson, kalau denger pasti ngomel-ngomel.
Tiga hari setelah pulang dari Tokyo, aku harus pergi dengan sepeda motor dari Boyolali ke kampusku di Jogja. Buat yang ga tau Boyolali, itu Kabupaten di Jawa Tengah yang dekat sama Solo. SMA ku juga dulu di Solo. Jadi kadang aku selalu bilang aku dari Solo. Biar lebih pendek juga suku katanya. Toh, aku emang lahir di situ. :p
Jadi kalau di tengah-tengah alu bilangnya jadi "Jogja-Solo", itu karena kebiasaan. Lagipula, ga beda-beda jauh juga jaraknya.
Perjalanan yang biasanya kutempuh sekitar 1 jam hingga 1 jam setengah, (pengaruh kebanyakan liat MotoGP), saat itu menjadi 2 jam. Aku memang menunggang motorku dengan kecepatan yang lebih lambat dari kecepatan sebelum aku ke Tokyo. Karena masih kagok, dan saat itu jalanan cukup ramai.
Kenapa ga naik kereta atau bis?
Karena aku memang ga terbiasa naik kendaraan umum sejak masuk kuliah. Karena lebih praktis dengan motor, karena rumahku jauh dari stasiun, karena aku ga suka dengan bis yang penuh pengamen. Masalah pengamen ini, mungkin akan aku bahas kalau aku ada niat dan bahan. Hehehe.
Setelah 2-3 kali menempuh perjalanan dengan sepeda motor, akhirnya aku merasakan kesenangan naik sepeda motor itu lagi. Aku jarang mabuk kalau naik mobil, tapi aku benci bau AC kendaraan. Dan sepeda motorlah solusinya. Karena anginnya alami. Hehehe..
Sayangnya rasa senang itu tidak lama karena aku dapat masalah baru. Yep. Klakson.
Sudah dari dulu aku merhatiin sih, orang-orang banyak yang suka klakson. Dan aku benci sama orang-orang itu. Kalau klakson sekali saja, biasanya untuk menegur pengendara yang sembrono, jadi kadang kumaafkan. Tapi seringnya, bunyi klakson itu terdengar seperti "Gue mau lewat! Minggir lo!" di telingaku. Alhasil, aku pasti langsung mood-nya jelek, dan ngomel-ngomel 2 jam.
Biasanya bunyi klakson seperti ini terdengar dari mobil di belakangku saat aku mau menyalip kendaraan di depanku dengan masuk ke lajur kanan. Maksudku, "Hey! Beri kesempatan donk! Kita pakai jalan ini sama-sama! Kenapa kamu merasa harus didahulukan?"
Bunyi klakson menyebalkan yang lain adalah bunyi klakson di lampu lalu lintas, apalagi yang ada timer-nya. Kalau timer untuk lampu hijau menurutku bagus, jadi kita bisa mengira-ngira dan tidak memaksakan diri untuk mengejar lampu kuning.
Jujur, aku dulu sering "berlomba" dengan timer lampu hijau. Jika jaraknya menurutku masih terkejar, aku malah akan meningkatkan kecepatan dan biasanya berhasil lolos saat lampu berubah merah sekitar 0,5 detik. Masa lalu.
Yang aku suka sebel adalah saat timer lampu merah, bukan yang hijau lho yaa, masih tersisa 3-5 detik, ada kendaraan yang sudah berisik mengklakson. Dan saat lampu akhirnya menjadi hijau, bunyi klakson ini akan semakin berisik.
"Hello?! Sekali aja ga cukup, ya?! Yang depan juga pasti denger kok.. Kan ga bisa semuanya serentak jalan. Harus urut dari yang depan ke belakang."
Aku ingat mengklakson seseorang di depanku saat lampu baru menjadi hijau. Tapi, itu di perempatan yang kecil dan saat itu hanya ada tiga motor yang berhenti menunggu lampu merah di sana. Aku ada di tengah dan aku mengklakson mbak-mbak di depanku karena aku melihat ia mengeluarkan handphone-nya sesaat sebelum lampu hijau menyala. Huh! Soal handphone di jalan ini, kita bahas nanti. Kalau aku niat.
Biarpun beritanya bukan tentang lalu lintas, aku menyadari di berita-berita apapun, orang-orang yang diwawancara sering berkata "Harusnya pemerintah bla bla bla", "Semoga pemerintah bla bla bla", "Ini adalah kewajiban pemerintah untuk bla bla bla".
Jujur, aku lupa liat berita apa. Yang jelas aku waktu rasanya capek dengerin orang minta ini itu ke pemerintah. Antara kasian karena selalu pemerintah yang dimintai ini itu, dan rasa tidak percaya ke pemerintah dan lembaga-lembaganya. Forget it.
Yang aku mau usul, gimana kalau kita berubah mulai dari diri sendiri. Di jalan sudah banyak anjuran untuk jadi pelopor untuk berkendaraan dengan aman. Aku sih, minta selain aman, yang sabar dan mau saling mengalah.
Kalau masalah ingin cepat sampai, semua juga ingin cepat sampai tujuan. Telat semenit dua menit ga akan bikin mati kok. Mungkin.
"Kan waktu adalah uang" katamu? Kalau gitu, gimana kalau berangkat lebih awal? Jadi tiba pun lebih awal, dan tidak terburu-buru di jalan dan tidak perlu mengklakson semua kendaraan di jalan.
Mari jadi pengendara yang aman dan sabar..
Kebut-kebutan itu ga keren kok.. Keren kalau di lakukan di track yang bener. Pakai pengaman lengkap.
Mahal? Ya itu resiko. Kalau ntar kecelakaan dan masuk rumah sakit, mahal juga jatuhnya.
Mari mulai tanamkan kebiasaan berkendara yang aman dan sabar.
Buat para orang tua, ajarkan sejak dini ke anak-anak anda. Mamaku juga selalu berpesan padaku "Jangan ngebut-ngebut" sejak aku SMA. Kalau nonton MotoGP dan sejenisnya, terangkan kalau mereka berhak kebut-kebutan karena mereka ada di track yang khusus untuk itu, dan mereka pakai pengaman yang cukup. Kalau ada bagian kecelakaan, tunjukkan pada mereka sambil berikan penjelasan, para pembalap itupun kadang dengan pakaian pengaman seperti itu bisa kena cedera.
Stop di sini aja deh sebelum aku mulai ngelantur.
Cerita tambahan. Aku bukan tipe orang yang suka ngklakson bahkan saat hampir celaka akibat pengendara sembrono di sekitarku. Tapi, saat di perempatan tanpa lampu lalu lintas, anggap aku berjalan di garis y, aku mengklakson ke satu kendaraan yang berjalan di garis x supaya kendaraan itu mengurangi kecepatannya karena aku melihat dari kaca spion di belakangku ada beberapa kendaraan lain. Bukan masalah menang jumlah atau apa, tapi biasanya kalaupun kita mengalah, kendaraan di belakang belum tentu mengalah. Balik lagi ke masalah kesabaran dan kesadaran untuk mengalah tadi yang menurutku masih kurang dimiliki pengendara di Indonesia. Paling ga untuk Jogja dan Solo.
Ah, udah deh. Aku kan mau cerita kalau aku kaget sendiri waktu denger suara klakson motorku. Saking ga pernah ngklakson. Atau karena saat itu malam, jadi terdengar lebih keras?
Ga usah dipikir ah, ga penting juga.
Oyasumi...

Jumat, Mei 31, 2013

Petualangan yang Tertunda

Huahh.. bingung..
Sekarang ini harusnya aku ada di jalan Solo-Jogja.. tapi nyatanya, aku ada di rumah ngetik note ini..
Tau ga kenapa? Ga tau?? Udah q duga..
Mau tau ga?? Ga?? Ya udah.. selesai deh.. hahaha..

Ceritanya begini (mlh crta sndiri tanpa dmnta), aku hrsnya jam 12.30 tadi dh brgkat ke Jogja. Ada technical meeting bwt acra gasshuku yang diadakan oleh Samurai Academy System tempat aku latian kenjutsu. TMnya jam 3 di Hotaru. Tapi, karena aku sibuk main solitaire di komputer, jd aku br bisa brgkat kira2 jam 1 gt dari rmh.. aku sdg mluncur dengan Karisma kesayangan q di jalan ketika ada sms masuk. Ketika aku mw ngambil hp yang selalu q gantung di leher q, aku mnydari bahwa ritsleting (tulisannya gitu bkn c?? au ah.. gelap..)jaket q macet.. aku smpet panik gt di jalan sebelum akhirnya aku mmtuskan untuk kmbli ke rmh q.. (untung blm jauh boo’..)
Sampai di rumah, aku minta tlg bntuan ibunda ratu yang cantik untuk membuka ritsleting jaket q nan macet. Ibunda ratu emg punya tangan ajaib!! Dan jaket q pun bisa dibuka.. (kt2nya lebay.. lebay..) aku pun brgkat lg..
Kesialan q ga cm mpe situ.. pas lg konsen mw nyebrang jalan, smbil mnyusuri sisi kanan jalan (anak2 yang baik.. di Indonesia, kendaraan harus berjalan di lajur kiri.. melaju di lajur kanan adl slh satu bentuk pelanggaran tata tertib berlalu lintas aman. Pelanggaran merupakan awal dari kecelakaan.. hoho.. Gaana sahabat polisi.. yoo..) aku merasakan ada yang aneh dengan ban blkg Karisma sayangq. Awalnya q pkir itu gr2 jlnny yang emg ga rata.. tapi setelah smpe di bagian jalan yang alus, ban blkg q tetap mnunjukkan gejala-gejala yang tidak biasa (ceilee.. bahasa q..)
Akhirnya, q ptuskan untuk berhenti dan wajah q lgsg jd males aku melihat ban belakang q kempes.. pes.. pes...
Melihat gejalanya, kemungkinan yang terjadi adl ban q bocor. Akhirnya, mtor q q tuntun ke bengkel terdekat.. (bner2 deket lho boo’.. cm 10 langkah doank dari tempat q brhnti)
Aku gy sibuk mngabari smw orang yang q knal tentang musibah yang menimpaku (lagi2 ngomongnya lebay) ketika bapak yang jagain bengkelnya berseru kagum.. (ee?? Kagum??)
Ternyata oh ternyata.. ban q robek parah banget!! Ada 30 sentimeteran x ya.. ada buktinya tuu..gr2 sebuah paku sialan yang notabene gede banget!! Sepanjang jari tengah q lho boo’.. aku pun lgsg laporan pada ibunda ratu.. (ada sisi bagusnya juga lho.. ban q robeknya sebelum aku terlalu jauh dari rumah.. cm di dket sekolah adikku)
Agak lama aku mnggu ketika melihat sosok ibunda ratu muncul dari tikungan jalan. Pas lagi lebay c, aku pasti teriak “bundooooooo..”
Berhubung aku nya juga jaim, jd nya ya teriaknya dalam hati aj…
Mama q juga kaget wktu liat ban q yang robek parah.. trs mgkn karena insting seorang ibu, mama q nyuruh aku ga usah brgkat aja.. (mggilnya apa c bnernya? Mama, ibunda ratu, bundo, ibu?? Sama ajalaaah..)
Yaudah.. aku nurut aj.. lgian, aku jg ngerasa sebaiknya aku di rmh aj hari ini. Dari pada ntar di jalan mlh kena razia polisi?? Udah baju ma helm q item.. bawa tas item.. bawa boken juga di tas pnjang berwarna item.. dikira anteknya Noordin M. Top bisa repot ni.. masa shbt polisi digrebek polisi?? Ga lucu kan?? Hyehehehehehe..
Yah.. jadilah aku pulang.. nyalain komputer.. online facebook.. n ngetik ni note.. hohoho..
oiya, ini gambar ban-ku yang sobek...


catatan: ini sebenarnya note yang ku tulis di facebook tanggal 13 Agustus 2009 (tak lama setelah kejadian).. karena sedang senggang makanya ku copas ke blog ini.. lol.. bahasanya juga masih alay.. hahahaha...
sumber: https://www.facebook.com/notes/gana-hikaru/petualangan-yang-tertunda/116229658350

Jumat, Juli 08, 2011

Perbaikan Jalan

Ngeekk.. ngapain dengan perbaikan jalan?
Ga ada apa-apa, sih.. cuma kepikiran aja gara-gara sms dengan seorang teman..
Waktu lagi sms itu dia lagi dalam perjalanan pulang dengan bis.. Nah, bisnya macet tuh.. Gara-gara perbaikan jalan..
Denger kata perbaikan jalan, aku jadi ngerasa agak gimana gitu.. Yah, aku biasa bolak-balik Solo-Jogja karena aku tinggal di Solo tapi kuliah di Jogja.. Dan ngelajunya naik sepeda motor.. Yah, lumayan bikin pantat tipis karena perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 1,5 jam.. kalo jalan lagi sepi dan kamu beruntung, (ehm, baca: dapetnya lampu hijau terus atau lampu lalu lintasnya mati) bisa cuma 1 jam loh.. Bahkan temenku ada yang pernah makan waktu 45 dan 48 menit.. Tapi itu gara-gara dia jalannya pas tengah malam, sih..
Tapi, sekarang ini, kalaupun dapat lampu hijau (minimal 5x) pun, susah buat bisa Solo-Jogja 1 jam.. Kenapa? JALANNYA RUSAK PARAH!! Dan biasanya, aku pasti jadi uring-uringan terus di jalan gara-gara jalan yang rusak itu.. Nah, mendekati musim liburan ini, ada banyak bagian yang diperbaiki.. Dan seperti perbaikan jalan yang lainnya, PASTI BIKIN MACET.. Yah, harusnya aku senang, dong.. Tapi kalo ada perbaikan jalan, tetep aja aku mikirnya sinis..
Penyebabnya adalah, aku ragu dana untuk proyek perbaikan jalan itu ga diKORUPSI.. Yah, aku cinta Indonesia tapi bukan berarti aku tutup mata masalah KORUPSI yang sudah menjadi penyakit bangsa ini.. Karena kalau dananya dikorupsi, bisa dengan cara mengurangi kualitas material yang dipakai untuk perbaikan jalan.. Perbaikan jalan dengan kualitas material nomor dua, tidak akan sanggup menahan bis dan truk-truk besar yang muatannya sangat berat sehingga jalan akan rusak lagi, dan berarti, butuh diperbaiki lagi, yang juga berarti, dananya dikorupsi lagi, sementara proses perbaikannya membuat jalan macet, yang pada akhirnya jalannya rusak lagi karena material yang tidak sanggup menahan bis dan truk-truk besar..
Yah, aku cuma asal mikir aja, sih.. Belum sampai buat penelitian soal kebenaran pendapatku.. Ini cuma sedikit wujud protes dariku sebagai pengguna jalan.. Dan kuakui kalo aku sukanya jalan yang halus dan (kalo bisa) sepi.. Bukan cuma ga macet.. Karena kalo ga macet tapi banyak mobil dan bis, biasanya butuh ngotot-ngototan dikit kalo mau NGEBUT (jyahh.. ketauan aslinya).. Kalo jalannya berantakan, kan, mesin motornya jadi cepet tua (dan begitulah keadaan Kharisma-kun, sepeda motorku)
Selain itu, ada juga tentang klakson.. Soal ini mungkin lain kali aja aku ceritanya..
Jaa, nee :)