Minggu, Juli 31, 2016

Fireworks of Shin-Urayasu City - 20160730

That night was amazing!!

So three days earlier I got a call from Umeda-san, a very kind-hearted lady of Foreign Student Division in Tokyo University of Foreign Studies (TUFS). She told me that someone called Tanaka-san would held a party in his home, and would take the participants to a fireworks festival near his house.
His house is located in Shin-Urayasu City, just one station of Keiyo Line from Maihama, the station of Disneyland and Disney Resorts. It is a little bit far than the fireworks in Sumida River, which some of Indonesian students already planned to go there.
But I told Umeda-san immediately that I would go to that fireworks in Shin-Urayasu. And then she told me, that the number of TUFS student invited is 3 students. But she contacted one student from Germany and was still waiting for her response, so I could take only 1 student to go with me.
I asked Boris at first. But he is closer to Umeda-san, so actually Umeda-san already asked him. But he already had something to do that day so he couldn't go.
Then, I told the other Indonesian students via Line group message if they want to go in this fireworks instead of fireworks in Sumida River. There are 5 other girls other than me and one boy in that group. 3 girls said that they chose Sumida, 1 girl said that she wanted go to a festival near campus, 1 girl had work that day, and the boy was in a camping program.
Knowing that I would go alone, kind-hearted Amalia who chose Sumida at first, then said to me that she would go with me to Shin-Urayasu instead.
I told Umeda-san the next day, and she told me to contact Tanaka-san too, so I emailed him and his wife.
Then that night Umeda-san send me a message if I could take another student because the German student couldn't go. So, I contacted Afrin, an Indian beauty, if she had time on Saturday. She didn't reply my message until the next day morning, so I told Umeda-san that I couldn't find another student.
But then Afrin replied, and she said that she might have time if she didn't go to Sumida River's fireworks. Then I told her about the party and fireworksin Shin-Urayasu, and she agreed to go with me because she went to Sumida's fireworks before!
Then we three went to Shin-Urayasu. We took Seibu Tamagawa Line from Tama Station to Musashisakai Station, and then took Chuo Line to Tokyo Station. And then we proceeded to Keiyo Line until we reached Shin-Urayasu Station at around 16.00. We still needed to take bus to Tanaka-san's house. There was a looooong line on the bus stop that we finally could get on on the third bus! Japanese reaaally likes fireworks at summer!
Then we reached Tanaka-san' house. The other participants were already there because the party should be started at 16.30. We ate a lot Japanese food like sushi, karaage, etc. And we met an Indian spouse that were lining with us at the bus stop! But they could get on the bus before ours so they reached the party earlier than us.
Then, Tanaka-san's wife, or I will say Mrs. Tanaka, handed us a small basket filled with pieces of paper. I took a piece with the number 3 on it and it turned out that they were giving us presents!
Mrs. Tanaka brought some pieces of clothes, and made us to take the one we like in turn according to our number. And I chose this sporty-looking t-shirt with the blue parker. The color is so "summer", you know what I mean?
Cute, right? Oh, I bought the eye-mask the other day. lol
The fireworks started at 19.30, so we left Tanaka-san's house at 19.00 after he handed us the tickets to a paid viewing area for the residents near the fireworks site!
And, oh, my, God! I'm really glad that I went there!
Here are some pictures and a video I took that night.




















Sooo colorful, right?!

I'm not good at taking pictures or videos, and I only have my phone camera with me, but believe me, it was soooo much better than this!
Thank you very much, Tanaka-san, Umeda-san!

Selasa, Juli 19, 2016

Pengaruh Anime Gintama

Terjadi lagi.
Semalam waktu pulang dengan berjalan kaki dari makan malam bersama mahasiswa-mahasiswa dari Indonesia, ada seseorang yang memulai pembicaraan bahwa Kota Fuchu yang kami tinggali saat ini adalah kampung halaman Shinsengumi.
Lalu, aku dengan semangatnya menimpalinya bahwa di Stasiun Tama ada banner yang bertuliskan "Selamat Datang di Kampung Halaman Kondo Isao", dan saat itu juga mahasiswa yang lain segera mengoreksiku dengan mengatakan "bukan Isao, tapi Kondo Isami!".
Aku pun teringat sebelumnya pada pembicaraan tentang SonnouJoui, aku dengan pede-nya mengatakan "Takasugi Shinsuke" dan saat itu juga aku langsung dikoreksi bahwa yang benar adalah Takasugi Shinsaku.
Terlalu banyak nonton Gintama ternyata berbahaya....

Rabu, Juli 13, 2016

Sabtu Sore di Shinjuku - 20160709

Ini adalah kejadian yang terjadi pada hari Sabtu minggu lalu.
Hujan turun dengan deras sejak dini hari hingga sekitar pukul 1 siang, yang membuat cuaca hari ini lebih sejuk dari biasanya yang pengap karena memang mau musim panas.
Awalnya aku malas untuk keluar dari kamar. Tapi kuputuskan untuk akhirnya mandi, dan pergi ke Shinjuku untuk melihat-lihat sepatu.
Lagipula, Silvia, sepeda gunung pemberian ibu temanku, sudah lama tidak diajak jalan-jalan.
Sekitar pukul 15.30 aku akhirnya siap untuk pergi.
Kujemput Silvia di parkiran sepeda di depan asrama, dan kukayuh menuju stasiun Tobitakyu. Sambil mengayuh kutimbang-timbang di mana aku akan memarkir Silvia.
Apakah di parkiran Stasiun yang lebih dekat tapi aku harus membayar sebesar 100 Yen, atau di sebuah supermarket yang berjarak sekitar 5 menit jalan kaki hingga stasiun?
Karena aku perlu membeli pisang sepulangnya nanti, kuputuskan untuk memarkir sepeda berwarna perak (makanya namanya Silvia) itu di supermarket tersebut.

Aku masuk ke peron setelah mengisi IC Card-ku, tepat sebelum keretanya datang. Lalu aku turun di Stasiun Chofu untuk pindah ke kereta yang lebih cepat karena hanya berhenti di stasiun-stasiun utama.
Tak lama kemudian, aku pun tiba di Shinjuku.
Aku keluar dari Hiroba Gate lalu langsung menuju ke Higashi-guchi (East Exit?) dan mencari pintu B13.
Pintu ini adalah pintu favoritku karena dari pintu itu, aku akan melewati Tutu Anna, toko pakaian dalam favoritku, kemudian setelah naik ke permukaan aku bisa langsung menuju Labi, toko elektronik langgananku.

Setelah aku menarik uang di atm yang ada di Labi, aku keluar dan berjalan menuju Kabuki-cho. Tempat ini menarik karena anime kesukaanku yaitu Gintama berlatar dengan nama yang sama.
Tapi ada dosenku yang mengatakan kalau tempat ini aslinya berbahaya. Banyak yakuza or something.
Dulu aku juga pernah didekati oleh orang mencurigakan yang mengajakku untuk "berteman".
Aku pura-pura tidak mengerti bahasa Jepang dan dia akhirnya menyerah. lol

Setibanya di pintu gerbang Kabuki-cho, aku berbelok ke kiri dan melewati terowongan yang bagian atasnya adalah rel kereta. Hujan deras membuat jalanan lebih licin jadi kulambatkan langkahku.
Setelah aku melintasi bagian bawah rel itu, kuberhenti di perempatan sambil menunggu lampu untuk penyeberang jalan menjadi hijau. Aku mengingat-ingat posisi toko sepatu khusus ukuran besar yang dulu pernah ditunjukkan oleh ibu temanku.
Aku yakin aku harus menyeberang dulu, tapi aku tidak yakin apakah aku harus berbelok ke kiri atau ke kanan setelahnya. Sebelumnya, aku menuju ke toko itu dari pintu keluar yang lain yang terletak di seberang dari rel yang bagian bawahnya baru saja kulewati. Dan aku ingat saat aku menuju toko itu, terowongan yang kulewati tadi berada di sebelah kananku.
Akhirnya, kuputuskan untuk berbelok ke kanan.
Aku mulai ragu karena toko tersebut tak kunjung terlihat.
Hampir kuputuskan untuk berbalik sebelum akhirnya aku melihat tulisan, "Toko sepatu ukuran besar" dalam bahasa Jepang.
Dengan senyum merekah kutuju toko tersebut.

Aku masuk tepat setelah beberapa tamu meninggalkan toko itu. Lalu kusadari bahwa setelah tamu-tamu tadi pergi akulah satu-satunya tamu di situ. Sambil berusaha untuk melihat-lihat sepatu dengan tenang, (aku suka grogi kalau dilihatin pelayan toko waktu belanja), aku menemukan sepatu dengan model yang sama dengan yang dulu pernah dibelikan ibu temanku. Lalu aku merasa bersalah karena masih belum sempat menemui beliau setelah aku kembali lagi ke Tokyo.

Setelah melihat-lihat selama beberapa menit, kutemukan beberapa sepatu yang kusuka. Tapi harganya yang di atas 10.000 Yen membuatku berpikir ulang untuk membelinya saat itu.
Lalu aku melihat sepatu sandal yang harganya hanya 5.900 Yen!
Sayangnya harga itu belum termasuk pajak sebesar 8% jadi pada akhirnya harganya akan menjadi 6.000 Yen lebih. Tapi hal itu tidak masalah.
Itu jauh lebih murah dari sepatu sandal yang lain, yang sebenarnya lebih kece menurutku, dengan harga 14.800 Yen sebelum pajak.
Lalu kuminta pelayan toko untuk membungkuskanku sepatu sandal itu dengan kotaknya.
Kemudian, setelah memintaku untuk menunggu sejenak, sang pelayan akhirnya menyerahkanku sebuah tas kertas yang dibungkus dengan plastik.
Aku sempat tertegun, lalu menyadari bahwa plastik ini diberikan karena hujan yang turun dengan deras pagi ini. Mungkin untuk menjaga supaya tas itu tidak basah jika terkena cipratan air dari genangan air hujan?
Karena hal inilah, aku kembali terkagum-kagum dengan pelayanan di toko-toko di Jepang. Banyak yang bilang kalau toko-toko di Jepang itu over-packaging. Kadang aku juga berpikir begitu. Tapi menerima pelayanan seperti ini membuatku merasa spesial dan aku pun tak dapat berhenti tersenyum saat kembali ke stasiun.

Ini foto-fotonya.
Tas kertas dengan bungkus plastiknya.
Kerennya lagi, plastiknya memang dibuat untuk tas ini, jadi ukurannya pas!
Setelah bungkus plastik dilepas dan kotak sepatu dikeluarkan.
Sepatu sandal yang kubeli <3
Lucu, ga? Abaikan pergelangan kakiku yang gemuk. Hahaha.
Pingin belanja lagi. Tapi harus nabung dulu. T-T

Senin, Juli 11, 2016

楽しい金曜日 - 20160708

先週の金曜日は、私には今学期の最後になる。
10.10時に始まって11.40時に終わる授業を参加している時に、後輩のサブリナに「先輩、一緒にチャベという店でインドネシア料理食べませんか」というメッセージもらった。
最初は私をいつもお世話してくれている山本おばあちゃんのところに行こうかなと思っていたけど、おばあちゃんは、空いている時に来てくださいと言ってくれたから、一緒に行くことにした。

そして、12時ごろに、私とサブリナの他に、インドネシア人のフリーズィとインド人のアフリンと四人で寮を出た。
インドネシア大使館のある目黒駅に向かった。
なんか、駅を出た時に、珍しいスポーツカーを載せているトラックを見て、面白いから写真撮りたいとか言っていたアフリン。
すると、写真を撮ってあげた。

美女のアフリン~


また、せっかくカメラをオンにしたから、自撮りもした。笑


それから、チャベに着いた。店は二階にあって、店の外はインドネシアのものが多く飾られていた。幸いなことに、店はあまり混んでいなかった。でも、優しそうな日本人が何人かいた。店の中にインドネシアの旗やワヤン等が飾られていた。
最初は、四人は旗の近くにある席にしようかと思っていたけど、優しい店員さんがその隣の席を綺麗にしてくれたので、その席にした。
でも、その席の近くにタバコを吸っている人がいて、ちょっと、出口から近い席に移動した。




店の中~席を移動した後


私とサブリナはナシ・チャンプル、アフリンはイードの時にインドネシアでよく食べられているナシ・オポールのランチセットを注文することにした。そしてフリーズィはルンダンと白飯の単品にすることにした。その次に、追加で、サテ・カンビン4本、カンクン炒め2つ、そしてバタゴール1つ頼んで、四人で分けることにした。
私、サブリナとアフリンはランチセットを頼んだから、スープとコーヒーか紅茶をもらえた。
いっぱい食べた。笑
ランチセットのスープ

ナシ・チャンプル <3

アフリンが頼んだナシ・オポール

食事中

写真の詳細*笑*
品名がないお皿は、白飯のお皿か、みんなのぞれぞれの取り皿


ちなみに、ちょうどその時に、二人のインドネシア人男性が入ってきて、一人の男性が私を見て、「ガナだね?」って声をかけてきた。
え?って思いながら、「ええ。そうです。」と答えた私。
この人、先輩だろうな、、でも、名前は、、なかなか思い出せなかった。
タタン先輩なのかなってずっと思いながら、先輩が変える前に、「よし!」と決めて、確認した。
やはりタタン先輩だった。笑
なんか、先輩に失礼しました。


先輩の話とは関係ないけど、チャベを出た後にサブリナの携帯で撮った自撮り


あ、チャベは平日だと、3時になったら閉まって、また5時ぐらいに再開する。
3時ぐらいをその店を出た後、なんかプリクラを取りたい気分になり、目黒から2駅しかない渋谷に行くことにした。
3年前ぐらいに、たくさんの友達とプリクラを撮ったゲーセンに行くことになった。
幸いなことに、そこへの道がまだ覚えていた。
時には、一回しか行ったことないのに、すぐあそこへの行き方が覚えてしまう私ってすごいね思ってしまう。笑
でも、そうしたら、なんか謙遜できない私だなってことも思ってしまう。笑
サブリナの表情が~ <3

ウィンクがへたっぴな私

目がやばかったから、メガネで隠してもらった。笑

フリーズィの表情が~なんかヒゲに似合う~ <3

なんか私、キラキラしているな、、笑
*謙遜なしか!?*

一回プリを撮って、なんか物足りないなと思って、もう一度撮った~。ただ、取る前に、どのようなポーズをするのかを予め打ち合わせした。笑
変顔のポーズのつもり
フリーズィの勝ちだな!笑

このつまらなさそうな顔
*でも、Vサインは忘れずに!*


怒っているポーズ?
アフリンの睨み~ >.<


ハッピー!のポーズ


皆美女だね~笑
*本当に謙遜しない人だな*

プリクラを撮った後、なんかカラオケをする気分になった。
フリーズィは、ジョーイサウンドの会員カードがあるから、井の頭線入り口の近くにある建物の9階に行くことになった。
3時間ぐらいカラオケをしたかったから、フリータイムにすることを店員さんに勧められた。
そして、私は、学割の値段があることが気付いた。
でも、その時に私だけが、学生証を持っていなかった。(´;ω;`)
ま、最終的には、会計の時に、受付のお兄さんが、私も学生ってことにしてくれた。
サンキュー、優しいお兄さん!
サブリナの携帯で撮ったカラオケの自撮り

サブリナの携帯で作ったgif?


そして、一階に降りるエレベーターで、またまた自撮りをできた。

一回しか撮らないつもりだったけど、その建物を出て、サブリナとアフリンがカメラ目線じゃなかったから、またエレベーターに戻って、9に上がって降りてきた。
すると、4回ぐらい自撮りできた。笑




いっぱい食べたり、遊んだり、歌ったりした一日だったな、、
また遊ぼうね~

Kamis, Juli 07, 2016

Realisasi Dadakan tentang Lagu Sempurna oleh Andra and The Backbone - 20160706

Ini realisasi yang kudapat tadi malam sebelum tidur, makanya judulnya 6 Juli 2016.
Aku lagi mengeringkan rambut sambil menatap cermin di kamar mandiku, ketika video di YouTube yang kusetel di hape-ku berganti ke video musik berjudul Sempurna yang dinyanyikan Andra and The Backbone.

Aku memang akhir-akhir ini sering mendengarkan lagu-lagu band Indonesia, seperti Sempurna, Main Hati, dan Hitamku dari Andra and The Backbone; Terlatih Patah Hati oleh The Rain ft. Endank Soekamti; serta lagu-lagu Superman is Dead (Man, they're rocks!).

Lalu, sambil tetap menatap cermin, aku pun ikut menyanyikan lagu berjudul Sempurna tadi.
Begini lirik pembukanya.

Kau begitu sempurna
Di mataku kau begitu indah
Kau membuat diriku akan s'lalu memujamu

Lalu, aku terhenti ketika menyadari bahwa jika ada orang lain yang melihatku saat ini, ia pasti akan merasa bahwa aku adalah orang yang narsis.
Misalnya kamu ga tahu lagunya, coba dibaca saja deh lirik di atas, sambil bercermin.
Hahaha.

Random banget, yak?

Anyway, lagunya bener-bener bagus kok. Jadi aku sangat menganjurkan untuk mencoba mendengarnya dulu. Walau aku juga meragukan bahwa ada orang Indonesia yang tidak mengetahui lagu ini.

Nih, videonya.


Rabu, Juli 06, 2016

Sugeng Riyadi - Idul Fitri 1437 H


Selamat hari raya Idul Fitri... Mohon maaf lahir dan batin...


Baru beberapa hari yang lalu ada berita soal penyerangan di Bangladesh, Baghdad, dan bom bunuh diri di Madinah. Tambah juga satu kejadian kecil soal bom bunuh diri di Kantor Polres Solo yang terjadi kemarin pagi, tepat di depan SMAN 4 tempat saya belajar dulu. 
Pada hari itu hingga malam tadi, banyak status-status di FB yang menyatakan doa dan dukungan terhadap para korban pada insiden-insiden di atas. Ada pula yang menyebarkan berita-berita ditambah dengan permintaan untuk berhenti menyalahkan Islam atas insiden-insiden tersebut. 

Sebagai seorang muslim (biarpun tidak taat), saya mendapatkan pelajaran mengenai agama Islam sejak SD hingga SMA, dan satu semester saat saya mahasiswa tingkat kedua. Dan dari situ ditambah dengan pengalaman-pengalaman membaca buku dan diskusi ringan dengan orang-orang yang lebih berilmu dibanding saya, saya bisa memberikan kesaksian atas pernyataan orang-orang bahwasanya Islam adalah agama yang mengajarkan perdamaian dan kasih sayang.
Itu saja sih... Toh banyak juga para ahli Islam yang sudah menulis tentang ini. Apalah saya yang hanya shalat di saat ada maunya saja. 

Balik lagi, ke Idul Fitri. Nah, pada hari ini, sejauh pengamatan saya di FB, yang banyak muncul adalah foto-foto saat berkumpul dengan teman dan keluarga, ditambah dengan beberapa ucapan dan doa khas Idul Fitri.
Saya juga tidak ketinggalan. Hanya saja, karena hari ini saya ingin mencoba mengikuti ujian akhir kuliah yang dimulai pada pukul 10.10, saya tidak mengikuti shalat di SRIT dan halal bihalal di KBRI Tokyo. "Ingin mencoba?"tanyamu? Ya, saya saat ini hanya berstatus sebagai mahasiswa riset yang tidak bisa menerima kredit sehingga hanya bisa menjadi mahasiswa pendengar di kuliah-kuliah yang saya ikuti. Dengan kata lain, saya tidak akan dinilai pada akhir semester jadi tidak perlu mengerjakan tugas ataupun mengikuti ujian.
Nah, karena saya memilih mencoba ikut ujian tersebut, sebagai konsekuensinya adalah saya tidak bisa menikmati opor dan makanan khas Idul Fitri di Indonesia. Yah, (hampir) tiap tahun juga sudah makan.
Dan saya juga takut nanti kalap dan makan terlalu banyak. lol
Lagipula sore nanti saya masih mengikuti kuliah wajib khusus mahasiswa riset. Jadi, saya tidak akan bisa menikmati makanan-makanan khas Idul Fitri dengan tenang karena kepikiran soal kuliah. #ngeles
Daaaan, sebagai gantinya, saya makan di kantin kampus bersama dua orang mahasiswa Jepang yang belajar bahasa Indonesia. Dan karena mereka tahu hari ini hari spesial, mereka dengan baik hati membelikan makanan favorit saya, Chicken Tatsuta-don!
I feel so blessed today. Rasanya rada malu juga sih soalnya dua mahasiswa ini cuma beda 2 tahun dengan dua adik kembar saya. Tapi yah, ga ada salahnya menerima kebaikan orang lain. Hihihi.
Mungkin karena hari ini Idul Fitri, rasanya seperti akhir pekan. Bawaannya pingin main. Hahaha. Padahal besok masih ada kuliah. Yah, habis kuliah terakhir nanti, main bentar ke Shinjuku bisa kali ya...
Akhir kata, saya hanya manusia biasa yang memang diciptakan sebagai makhluk yang tak luput dari kesalahan. Saya berusaha untuk tidak melukai siapapun dengan ucapan maupun perilaku saya. Namun, bagaimanapun juga saya tak bisa menjadi manusia yang sempurna yang bisa memenuhi harapan semua orang. Tentu banyak orang yang tidak berkenan dengan saya tanpa saya ketahui.
Untuk itu, saya mohon maaf lahir dan batin. Semoga Allah SWT selalu memberikan kita kesehatan jasmaniah dan kesehatan hati. Dan dengan demikian, kita bisa mencapai perdamaian dunia yang penuh dengan cahaya cinta perlahan menyilaukan. Itulah mimpi kehidupan kedua. Mimpi itu, dari mana datangnya... 



Jumat, Juni 10, 2016

Sleep is for the Weak

"Sleep is for the weak." Itu kalimat yang sering kubaca di 9gag di kolom komentar dari postingan mengenai hal-hal berbau horor. Aku berkesempatan menggunakan kalimat tersebut untuk postingan di akun Line-ku, karena saat ini aku harus begadang untuk mengerjakan tugas laporan yang harus dikumpulkan hari berikutnya (atau pagi nanti, karena sudah hampir jam 2 saat aku mulai menulis tulisan ini).
Dan, kesimpulanku setelah terjaga hingga saat ini adalah, I am weak.
Memang, aku ga ngantuk karena tadi sudah tidur siang sampai-sampai membolos satu kuliah di sore hari. Tapi aku ga bisa konsen dan ga dapet ide sama sekali mengenai apa yang harus kutulis untuk tugas laporan tersebut.
Akhirnya aku memutuskan untuk menyerah saja dan meratapi nasib dengan menulis tulisan ini.
Toh, statusku di kuliah tersebut hanya listening-student yang tidak akan mendapat credit di akhir semester nanti. Dengan kata lain, tidak wajib mengerjakan tugas atau mengikuti ujian.
Itu yang aku dengar sih.
Baiklah, sudah jam 2 pagi. Alarm yang kupasang untuk sahur (ini bulan Ramadhan hari kelima) sudah berbunyi. Yah, biarpun hari ini aku ga puasa karena sudah ada janji mau cabut gigi dan harus minum obat. Huhuhu.
Selamat menunaikan ibadah puasa saja deh buat yang melaksanakan.
Aku mau melarikan diri dulu ke dunia mimpi... Di atas kasur yang penuh dengan kertas yang berserakan... 

Selasa, Juni 07, 2016

"Tahu" dalam Percakapan Bahasa Indonesia

Kata "tahu" dalam bahasa Indonesia ada dua jenis. Menurut kbbi online, Kata "tahu" yang pertama adalah kata kerja dengan arti sebagai berikut:
1.      Mengerti sesudah melihat (menyaksikan, mengalami, dan sebagainya) 
Contoh: 
“Ia tahu bahwa saya yang menolongnya.”
“Perkara mesin, dia lebih tahu daripada saya.” 
2.      Kenal (akan); Mengenal
Contoh:
“Ia tidak tahu akan sanak saudaranya lagi.” 
3.      Mengindahkan; Memedulikan
Contoh:
“Ia sudah tidak mau tahu lagi kepada anaknya.”
4.      Mengerti; Berpengertian
Contoh:
“Siapa yang tahu apa maksud tanda ini?” 
5.      Pandai; Cakap
Contoh:
“Sedikit-sedikit saya tahu juga tentang mesin.” 
6.      Insaf; Sadar
Contoh:
“Dia tidak tahu akan kekurangannya.”
7.      (Ragam cakapan) Pernah
Contoh:
“Petinju itu tidak tahu menang.”
“Adikku tidak tahu membolos.”
Tahu di asin garam” (Peribahasa: banyak pengalaman).
Tahu makan tahu simpan” (Peribahasa: dapat menyimpan rahasia baik-baik)
Sedangkan “tahu” yang kedua adalah kata benda yang merujuk pada “makanan dari kedelai putih yang digiling halus-halus, direbus, dan dicetak”.
“Tahu” yang ingin saya bahas adalah “tahu” yang pertama. Kata “tahu” ini dalam percakapan sering dilafalkan menjadi “tau”. Bahkan, banyak yang menulis demikian dalam tulisan-tulisan informal seperti dalam media sosial atau pesan singkat. Untuk memudahkan pembahasan dan karena contoh yang akan saya kemukakan adalah contoh penggunaan dalam percakapan informal, untuk selanjutnya saya akan menulis kata “tahu” ini menjadi “tau”.
Saya mengangkat kata “tau” ini karena satu hal yang menarik tentangnya. Hal itu adalah, kata “tau” sering digunakan dalam arti yang berkebalikan dalam arti semula pada percakapan informal. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, kata “tau” pada dasarnya berarti “mengerti”. Namun, mari kita perhatikan contoh kalimat dalam screenshot dari sebuah komentar dalam artikel di kompas.com:
(Aku tau. Mataku juga sakit lihat gaya penulisannya yang hampir semuanya pakai huruf besar untuk huruf pertama kata-katanya. Paling ga, dia pakai huruf kecil untuk "dan" dan "di".)

Contoh lainnya juga berasal dari artikel di kompas.com:

Contoh yang pertama di atas merupakan contoh penggunaan kata “tau” untuk menunjukkan keadaan bahwa pembicara “tidak mengerti”, sedangkan contoh yang kedua merupakan ragam bahasa gaul yang menunjukkan bahwa pembicara “tidak peduli”. Setahu saya, (dan dapat dilihat dalam contoh di atas) penggunaan ini hanya berlaku untuk orang pertama (dengan kata lain, pembicara sendiri), dan biasanya diucapkan dengan intonasi dan gesture yang khas. Sayangnya, saya belum ahli untuk mendeskripsikan intonasi dalam tulisan. Tapi saya yakin, sesama penutur asli bahasa Indonesia paham intonasi dan gesture yang saya maksudkan.

Saya merasa ini suatu fenomena yang menarik. Namun sayangnya, saya masih belum berhasil mengetahui dan menganalisis bagaimana fenomena ini bisa terjadi. Saya menuliskan hal ini di blog sebagai pengingat saya sendiri. Kalau ada perkembangan, mungkin akan saya perbarui. Mungkin. 

Rabu, Mei 11, 2016

Sedikit Ocehan mengenai Kata Tanya "Kenapa"

Pertama-tama, mari kita simak gambar berikut,

Sumber: Facebook
Oke. Saya harus mengakui pada saat pertama kali baca pernyataan si cowok bahwa pertanyaan "kenapa" dijawab dengan "karena", bukan "gapapa", saya tidak merasa ada yang janggal. Karena memang dalam KBBI online, kenapa adalah ragam percakapan dari pronomina yang bertujuan untuk menanyakan sebab atau alasan (mengapa). Namun, saya merasa "kenapa" dalam pertanyaan "kamu kenapa?" malah akan aneh jika dijawab dengan dimulai kata "karena". Ini cuma analisis ngawur saya saja sih, tapi ada dua kemungkinan dari pertanyaan "kamu kenapa?" tersebut.
Pertama, sebenarnya "kamu kenapa?" adalah bentuk lain dari "apa yang terjadi denganmu?".  Jadi, pembicara bukan menanyakan suatu sebab atau alasan, tetapi meminta informasi mengenai keadaan lawan bicaranya. Oleh karena itu, seharusnya tidak aneh kalau dijawab dengan kata "gapapa", yang bisa dianggap sebagai ragam percakapan dari "tidak ada apa-apa".
Kedua, "kamu kenapa?" adalah bentuk lain dari "apa yang terjadi denganmu? Mengapa itu terjadi?". (Makanya urutan penyebutannya juga jadi "kamu" dulu baru "kenapa", bukan "kenapa" baru "kamu". Walaupun pertanyaan "kenapa kamu?" juga tidak aneh, sih.) Jadi, "kenapa" dalam pertanyaan "kamu kenapa?" akan lebih alami jika dijawab dengan jawaban yang menyatakan kondisi orang yang ditanya seperti berikut.
  1. "Aku tidak apa-apa" atau "Gapapa",
  2. "Aku marah",
  3. "Aku sedih”,
  4. "Aku takut", dsb

Jawaban-jawaban di atas dapat dianggap bahwa sebenarnya mereka adalah bentuk singkat dari kalimat-kalimat berikut. 
  1. "Aku tidak apa-apa. Karena tidak ada apa-apa yang menggangguku/ menyusahkanku/ membuatku marah"  
  2. "Aku marah. Karena aku dengar kamu pergi dengan cewek lain kemarin." #ergh 
  3. "Aku sedih. Karena aku merasa kamu tidak jujur lagi padaku." #hoek 
  4. "Aku takut. Karena mukamu serem." #apasih

Atau, kalau memang mau memaksakan untuk menjawab pertanyaan "kenapa" itu dengan "karena", bisa saja bentuk lengkap jawaban-jawaban di atas adalah sebagai berikut.  
  1. "Karena tidak ada apa-apa yang menggangguku/menyusahkanku/membuatku marah, aku tidak apa-apa" 
  2. "Karena aku dengar kamu pergi dengan cewek lain kemarin, aku marah."
  3. "Karena aku merasa kamu tidak jujur lagi padaku, aku sedih."
  4. "Karena mukamu serem, aku takut."

Tapi jawaban-jawaban di atas menurut saya hanya mungkin dilakukan oleh orang-orang Indonesia yang belajar Bahasa Jepang dan tinggal di Jepang dalam waktu lama. Karena menyatakan suatu alasan atau sebab terlebih dahulu lalu menyatakan hal yang ingin disampaikan adalah kebiasaan orang-orang Jepang yang terbiasa menahan diri untuk tidak menyatakan pendapat atau pernyataan yang bersifat subyektif, sehingga mereka menutupinya terlebih dahulu dengan beragam alasan.
Sekian. *drop mic*

Selasa, April 12, 2016

悩み

悩みというのは、やっぱり一人で抱えるものではない。
悩みがあってからこそ、仲間の大切さが分かる。
解決方法がすぐに見つかるからではなく、
誰かに悩みを聞いてもらって、少なくとも心がほっとできるからである。
その上に、少なくとも違う観点から悩みを見ることができるからである。
そして、時には、その悩みを抱えているのは、自分一人じゃないということも分かる。

ってか、論文でも書いてるのか!?

ちなみに、ブログは本当に久々だ、、
何ヶ月ぶりかな、、

近況だけど、二回目に文部科学省の研究生プログラムに挑戦して、やっと合格できて、今東京外国語大学に戻って来た。
東京に到着してから、二週目に入ったけど、もう何年間ぐらいここにいると言う感じがしている。
用事もないのに、私の部屋に来る友達などがいないから、2年半前に比べると、今はもっと寂しい感じもするが、またこの大学で勉強できて、本当に感謝している。
週末に、ヘルキーと散歩したり遊んだりすることができなくなり、泣いたほど苦しい時もあるけど、
この2年間半における様々ことに振り返ってみると、研究生になれて本当に良かったと思っている。
今のところはヘルキーのビデオや写真で我慢する!
大学院生になれるように、頑張る!

こんなヘルキーを見ると、なでなでしてあげたくなるだろう?
ベランダから撮った桜の写真。まだ桜が見られて良かった。